Masih Sempat
/Sekolah/
Ku duduk termangu di taman belakang sekolah.
“Hei Reksya, ngapain di situ?” sapa seseorang dari arah belakang. Enggan membalas jadi ku tetap diam.
“Ditanya malah diem aja.” seseorang tadi menepuk bahu sambil duduk di sampingku.
“Maaf gak denger tadi.”
“Ngapain di sini?”
“Duduk nyari udara seger.”
“Hmm.. lusa kamu ngerayain natal gak?’
“Iya lah ngerayain kayak biasanya, emang kenapa Yer?”
“Gakpapa, syukur deh kalau masih bisa ngerayain hari raya. Btw, makan-makan di rumahku mau gak Sya?”
“Besok ya pas natalan?”
“Iya.”
“Liat besok deh Yer, aku kabarin kalau aku bisa.” jawabku membalas tawaran dari Yere.
Bel sekolah berdentang disusul pengumuman bahwa para murid dipulangkan lebih awal.
“Wah pulang awal nih.” celetuk Yere.
“Yere, kalau gitu aku duluan ya mau beli kado buat papa.”
“Perlu ditemenin gak?”
“Gak usah Yer makasih.”
Yere adalah teman satu sekolahku, sebetulnya kami tidak terlalu akrab hanya sekadar kenal. Yere anak yang super humble jadilah banyak yang cukup dekat dengan dia. Termasuk aku, orang yang nyaman berteman dengannya.
/Pusat Kota/
Aku telah berdiri di depan pusat perbelanjaan di tengah kota. Melangkah masuk memilih kado natal untuk papa. Berkeliling memilah banyak barang, langkahku terhenti di sebuah toko elektronik yang menjual berbagai macam radio, papa senang mendengar radio jadi ku putuskan untuk membelinya. Setelah mendapat radio yang dirasa cocok, aku ke kasir untuk membayarnya. Lanta keluar dari toko bersamaan dengan turunnya hujan yang begitu deras, aku memesan taksi online untuk pulang.
/Ruang Makan/
Aku dan Edo duduk sambil sibuk memotong buah untuk dijadikan salad.
“Bang Edo.”
“Hmmm.”
“Tadi ada temen aku namamya Yere, dia tanya besok ngerayain natal enggak, terus bilang ikut seneng kalau aku bisa ngerayain natal.”
“Ya bener kan, kamu harusnya juga ikut bersyukur.”
“Iya sih, dia ngajakain makan-makan juga padahal akrab banget juga enggak.”
“Terus kamu tolak ajakannya?”
“Belum aku jawab.”
“Yaudah tinggal iyain, terima aja ajakan baik.”
“Oke deh nanti aku bilang, btw itu motong buahnya udah banyak Bang.”
“Lah kamu si ngomong terus.”
“Aman, ntar aku yang makan.”
Tuk... Edo berjalan gontai ke dapur sambil menepuk kepalaku pelan.
/Hari Raya/
Di malam hari raya ini aku berkumpul dengan keluarga saling menyampaikan harapan untuk tahun esok dan memanjat syukur kepada Tuhan untuk semua berkatNya. Pun kami saling bertukar hadiah yang sudah disiapkan sejak hari lalu.
Sesuai undian aku memberikan radio yang telah ku beli kepada papa sebagai hadiah natal tahun ini. Giliranku mendapatkan hadiah. Bang Edo memberiku sebuah kotak panjang yang belum bisa ku tebak isinya.
“Ha-ha-ha... kenapa sumpit si bang?” ku tertawa renyah setelah membuka kotak hadiah.
“Ya kan kamu seneng makan pake sumpit, sampai sumpit kamu jadiin tusuk rambut.”
“Ha-ha boleh deh, makasih ya.”
“Itu ada bingkisan bulet satu lagi, buka deh.”
Aku membuka bingkisan tadi, berisi dua kalung kembar yang sangat cantik rupanya.
Tertulis di dalam gift card “Untuk mama dan adikku Reksya. Merry Chrismast.”
Malam yang penuh kasih damai, terima kasih Tuhan.
/26 Desember/
Masih dalam momen perayaan hari raya. Aku menerima ajakan Yere untuk merayakan natal di rumahnya. Aku sudah mengirim pesan bahwa satu jam lagi aku akan datang ke rumahnya. Karena tidak kunjung ada balasan, akhirnya aku memilih untuk langsung ke pergi ke rumah Yere.
Deg. Setibanya aku di rumah Yere, baru saja aku menapakkan kaki di halaman rumahnya aku disuguhkan sesuatu yang mengejutkan. Ini alasannya Yere tidak mengangkat telfon dan tidak membalas pesanku.
Saat ini, di depanku kulihat Yere sedang duduk tertunduk dengan wajah sendu mendampingi ibunya yang saat ini berada dalam peti jenazah. Yere yang menyadari kedatanganku langsung beranjak menghampiriku. Tanpa disadari aku memeluknya erat-erat. Yere yang ada dihadapanku saat ini adalah Yere yang lain, Yere yang berada di titik rendahnya. But it’s okay Yere pasti kembali.
/Selesai/
Pemakaman selesai. Kami duduk di kursi depan toko bunga dekat pemakaman.
“Maaf gak jadi makan barengnya.” ucap Yere di tengah ramainya hilir mudik orang-orang ke pemakaman. Aku membalasnya dengan senyum sambil mengusap bahunya.
“Sya, Tuhan baik ya kemarin kita masih sempat ngerayain hari raya sama keluarga.” kata Yere lagi.
“Iya Yer, semua udah ditulis. Kita bisa apa. Kamu kuat Yer, you did it.”
“Iya aku kuat, terucap lirih tertanam kuat.” Yere.
/Yang ini berbeda/
Natal tahun ini berbeda ya, tears come suddenly tanpa Tuhan kasih aba-aba tapi tidak apa-apa semuanya memang sudah garisnya. Untuk ibu Yere pasti Yere menempatkan Ibu diingatan tertingginya.
Tuhan terima kasih untuk satu tahun penuh berkat, semoga segala kebaikanmu tidak terhenti ditahun ini.
Reksya dan Yere semoga hari baik memenuhi tahun-tahun selanjutnya.

Komentar
Posting Komentar