Arumika 2

 

Sudah tiga bulan berlalu, aktivitas biasanya dilakukan. Aku dan Kina tetap berhubungan baik hanya saja tidak sedekat dulu.
Bulan-bulan selanjutnya tetap berialan, sudah dekat dengan 31 Desember.
Aku kira dengan sibuk, aku tidak memikirkan Kina. Nyatanya sama saja. Hari-hari ku penuh dengan Kina. Hanya tak sampai saja untuk menggapainya lebih memilih menunggu satu tahun selesai. Kamu saja bingung dengan perasaanmu bagaimana dengan Kina? Rasa takut menyelimuti, takut aku tidak bisa kembali dengannya.
Dalam bulan-bulan itu tidak terjadi hal baru? Tentu ada.
Mawar, mawar siapa?
Perempuan sama baiknya, sama sabarny seperti Kina. Nyaris saja nyaman dengannya karena terlalu sering bertemu.  Bahkan bapak juga kenal, sudah akrab pula.

Dalam sebuah pertemuan disuatu malam tepatnya di Kafe samping rumahku.
"Kenapa Mawar ngajak ke sini?"
"Aku cuma mau tanya sesuatu dan meminta waktumu sebentar. Tidak akan lama."
"Waktu untuk apa?"
"Aku langsung tanya aja ya. Kita kenal udah cukup lama bahkan satu tahun terakhir kita sering bertemu, kadang bertemu di waktu pagi pisah hampir menjelang malam. Ya kan Bri?"
"Iya, lantas?"
"Bohong jika aku tidak menaruh perasaan sama kamu Bri. Jadi aku mau menanyakannya langsung daripada terus kusimpan mengganjal dipikiran. Apa masih ada tempat untuk aku singgah Bri? Maaf jika ini terlalu lancang dan mengagetkan."
"Selalu ada tempat untuk orang sebaik kamu Mawar. Tanpa kamu minta sudah ada tempatnya."
"Tempat seperti apa?"
"Tempat untuk tidak lebih dari kawan. Aku sudah cukup nyaman dengan pertemanan ini, jika yang kamu maksud tempat lebih dari ini maaf Mawar tempatnya sudah terisi. Pun maaf jika ini bukan jawaban yang kamu mau."
"It's okay Bri, aku bisa menerima itu. Semua sudah ku utarakan dan terjawab. Bisa kamu tunggu sebentar di sini? Aku mau ke belakang."
"Iya bisa."
Selang beberapa menit setelah Mawar ke belakang, ada pelayan Kafe yang mendatangiku memberi sebuah kertas.
"Ini ada pesan dari perempuan yang ada di depan sana Mas." ucapnya sambil menunjuk seseorang yang berada di panggung Kafe.

Hallo Bri
Izinkan aku menampilkan sebuah lagu saja untuk kamu ya.
- Mawar


Now playing

Tak kan apa bila rasa ini tumbuh sendirinya
Tak berdaya diri bila di antara
Walau itu hanya bayang bayangmu

Senyumanmu yang indah bagaikan candu

Ingin trus ku lihat walau dari jauh
Skarang aku pun sadari semua hanya mimpiku
Yang berkhayalah kan bisa bersamamu
- Halu -

Hanya itu saja yang terjadi malam itu. Tempat yang diinginkan Mawar sudah terisi Kina, dan itu sampai waktu-waktu berikutnya.

Satu tahun sudah selesai. Justru aku dan Kina rasa-rasanya semakin jauh. Kina jarang update dimedsosnya, terakhir yang kutahu dia cukup akrab dengan teman lelakinya kulihat di postingan Instagramnya tertulis "I'm bless to having you."
Bohong jika aku tidak cemburu, mulutmu mungkin bicara baik-baik saja. Nyatanya hatimu runtuh juga Bri. Haha aku bisa gila.

31 Desember 2019
Stasiun Kiara Condong Bandung
Aku duduk di plataran stasiun pagi-pagi sekali. Harapku selalu sama yaitu bertemu Kina di tempat ini. Seperti yang sudah dijanjikan dulu.
Aku sudah mengirim pesan ke Kina.
"Kina, hari ini 31 Desember Stasiun Kircon." Tidak ada balasan bahkan belum dibaca.

Empat puluh menit berlalu, lalu lalang penumpang kereta menemaniku. Aku coba mengecek pesan yang ku kirim sudah dibaca sepuluh menit lalu tapi tidak dibalas.
Aku mengedarkan mata melihat sekitar. Deg. Perempuan memakai sweater army rambut sebahu memegang dua kaleng kopi berjalan ke arahku. Ya itu Kinasih.
Namun ia datang tidak sendiri, Kina datang dengan seorang lelaki. Yang mana? Ya betul, lelaki yang ada di laman Instagram.
"Hai Brian, lama banget ya." Sapa Kina sambil menyodorkan sekaleng kopi hitam.
"Hai Kin."
"Aku pamit ya Kina Brian juga. Tugasku cuma nganter Kina sampai sini." lelaki di sampingnya menyambung obrolan.
"Makasih Feb, hati-hati."
"Jagain Kina ya Bri, udah cukup buat jedanya. Baik-baik kalian."
Febrian nama lelaki tadi, melenggang pergi punggungnya menghilang dari pandangan.

"Apa kabar?" tanyaku pada perempuan di hadapanku ini.
"Baik."
"Boleh aku tahu siapa Febrian tadi?"
"Bukan siapa-siapa Bri, dia sepupuku. Kemana-mana sering sama dia. Bri kemarin aku juga ketemu Mawar teman kamu itu, diantar Febrian."
"Oh ya? kamu tahu cerita yang di Kafe itu?"
"Iya, Mawar cerita semuanya. Mawar kenal Febrian."
"Udah cukup Kin? perlu aku yang cerita lagi?"
"Gak usah, gak minat aku. Ayo habisin waktu buat pertemuan ini aja. Jalan-jalan keliling Bandung beli es krim. Foto buat menuhin galeri."
"Ayo Kin."

Kepergianmu itu cuma bayangan Kin, ketakutanku saja. Kepergianmu tidak perlu dirayakan karena memang kamu masih di tempat yang sama tidak kemana-mana.

Bandung 2019. Selesai.




Komentar

Postingan Populer