Seharusnya Pertemuan itu Tidak Ada

Kesan buruk menjadi bumbu awal pertemuan pertama. Takdir memaksa untuk terus beriringan hingga tahun-tahun berikutnya. Di belakang sana namaku tak henti-hentinya disebut, aku lebih banyak diam enggan berkomentar. 

Aku punya saran bagus, perbincangan tentang aku harusnya jauh di ujung sana, disimpan rapat-rapat agar aku tidak mendengar. Sebab, jika itu sampai di telinga hanya akan mengusik sebagian pikiranku. 

Merasa bersinar paling terang boleh.

Menganggapku hanya segelintir cahaya, silakan. Aku tidak pernah melarang itu. Hukum semesta selalu bekerja, pada akhirnya sinarmu redup dalam kebingunganmu sendiri. Lenyap dalam asumsi-asumsimu sendiri. Kasihan.

Namun, aku juga mensyukuri perkenalan ini terjadi. Aku menjadi tahu tidak semua yang dekat itu baik. Semakin aku tahu banyak semakin juga banyak khawatir, khawatir aku menjadi manusia yang mengecewakan banyak orang. Hmm, melakukan apa-apa dikendali ekspektasi orang lain memang tidak menyenangkan. 

Pertemuan itu tidak salah, tapi seharusnya tidak ada. Apa peduli semesta, nyatanya sudah terjadi kamu bisa apa?

Komentar

Postingan Populer