Arumika

 Room Chat Brian Kane & Kinasih 

Kin

Apa bang?

Jam 9 aku jemput ya, temenin beli makanan titipannya Dea, dibawa ntar malem

Oke, ku tunggu

Jam 9, ga ngaret

Bang Brian ga ngaca

Hahaha


"Kin, kinasih ayokk." Aku memanggil perempuan itu di depan rumahnya, sebenarnya tanpa memanggilpun Kinasih sudah hafal suara motorku.

"Hayuu, mampir ke Kang Mus ya pengen kue balok."

"Yaa."

Aku dan Kina ke pergi ke toko oleh-oleh membeli wajik, makanan yang selalu dipesan Dea setiap kami mau ke Bandung.

Wajik yang kami beli cukup banyak, kami membeli 10 pcs wajik, mungkin ini muka cocok kali ya jadi sales wajik. 

"Apalagi Bri? Kado lamaran udah diambil?" Tanya Kina.

"Oh iya belum Kin, hampir aja lupa."

"Yaudah gas."


Amour.Detailer

"Permisi mbak, mau ambil pesanan atas nama Brian Kinasih."

"Oh ya Mas Brian, saya ambilkan dulu ya."

"Loh kapan digantinya? Kemarin atas nama Kinasih doang." Protes Kina.

"Di mana ada Brian Kane di situ ada Kinasih."

"Heleh, bang-bang."

"Ini mas, pesanannya."

"Makasih ya Mbak."

"Iya sama-sama Mas, Mbak. Kalau besok Mas Brian sama Mba Kina mau lamaran kami siap membantu yaa." Ucap mbak-mbak pemilik toko seserahan ini.

"Siap Mbak. Lagi memantaskan diri masing-masing dulu, doain aja ya mbak semua urusan lancar." Aku cepat menjawab.

"Kami berdua pamit dulu ya Mbak. Terima kasih." Kina berpamitan dengan wajah yang bersemu merah. Lucu sekali ekspresinya. Kami berdua itu sudah cukup lama bersama, sudah 3 tahun.


Kami tidak lupa mampir ke kue balok Kang Mus di Umbulharjo, dekat Stasiun Lempuyangan.

Aku mengantar Kinasih pulang menemaninya memakan kue balok tadi. Jam setengah tiga aku sudah sampai di rumah, bersih-bersih kemudian menyiapkan dan mengecek ulang barang-barang yang akan di dibawa nanti malam ke Bandung.


Room Chat Brian Kane & Kinasih 

Jam enam berangkat ke stasiun yaa. Nanti diantar bapak 

Iyaa Bri, aku ingat 


Stasiun Tugu 

"Masih sejam lagi kereta berangkat. Mau kopi Bang?" 

"Kamu jualan kopi Mbak? Emang kamu bawa termos Kin?"

"Yakali Brii."

Kina memberiku sekaleng kopi hitam. Pun dia juga meminumnya. 

"Kin, kamu kalau manggil aku yang bener dong, kadang Bang, kadang Brii, kadang Bang Brii, berubah terus." Protesku kepadanya. 

"Gakpapa dong Bri, yang penting perasaan aku ke kamu enggak berubah." 

"Duh bahaya ni si Mbak." Balasku.

Kina hanya menatapku sambil tertawa. 


Jam 20.00 WIB

Kereta siap berangkat menuju Kota Kembang, Kota Bandung. 

Aku berjalan lebih dulu sambil memegang tangan Kina. Dipegang takut lepas.

Aku dan Kinasih sudah menemukan tempat duduk kami. Tidak begitu ramai gerbong kereta api saat ini. Di depan kami ada mbak-mbak yang tertidur pulas dengan kaki yang mengganggu tempat kami, barang bawaannya juga tidak tertata. 

Kina tiba-tiba mengeluarkan ponsel menelfon seseorang.

"Bu, masak ada orang tidur seenaknya sendiri, aku sama Brian kan jadi ga nyaman. Emang ni gerbong punya mbaknya sendiri." Ia berlagak melakukan panggilan dengan ibunya, bicara dengan volume cukup nyaring. Mbak-mbak di depan kami sepertinya mendengar, dia terbangun lantas membenarkan posisinya. Dasar Kinasih bisa aja. 

"Nih vitamin diminum dulu." Kina memberikanku vitamin C untuk asupan imun. 

Kina ini orangnya melankolis sekali, semuanya dipersiapkan, tertata rapi. Kalau ada perjalanan sama dia itu nyaman, perhatian sama barang bawaan, barang-barangnya aja diperhatiin apalagi aku haha. 


Aku mengeluarkan earphone dan mulai mendengarkan lagu Monolog-Pamungkas.

"Kinasih, mau dengerin?" 

"Boleh."

"Bang Brian." Panggil Kina.

"Kenapa?"

"Definisi bahagia menurut Bri apa Bang?"

"Kenapa memang?"

"Tanya aja."

"Bahagia itu banyak versi Kin, ada yang bahagia kalau punya banyak uang, bahagia kalau mabuk-mabukan, bahagia kalau punya pacar banyak."

"Bahagia versi abang gimana?"

"Bersyukur Kin. Bahagia itu bersyukur, bersyukur sama apapun yang kita dapat, yang kita laluin. Bahagia kan diciptain Kin, apa dicari? Kalau bahagia itu ngejar uang, harta, hedon, mabuk, ya itu gak ada habisnya Kin. Capek."

"Di waktu ini, untuk sekarang ini apa yang buat Bang Brian bersyukur banget?"

"Banyak Kina, sampai saat ini masih dikasih sehat sama Tuhan, masih bisa ngelakuin perjalanan sama kamu. Bapak ibu sehat. Hal-hal kayak gitu yang sering lupa disyukurin kan Kin."

"Iya, ya Bang. Jadi manusia kadang terlalu muluk-muluk mau ini itu, sampai lupa hal-hal kayak gitu, yang Tuhan kasih setiap saat lupa disyukurin."

"Satu lagi Kin."

"Oh yaa? Apa Bri?"

"Ngemilikin kamu Kin. Punya kamu itu bersyukur, pake banget. Sikap, kepribadian kamu itu hal yang bisa nglengkapin hidup aku selama 3 tahun ini. Semoga bisa sampai nanti-nanti ya haha. Aamiin. Cantik itu bonus yang aku syukurin juga."

"Rasa syukurku ngemilikin kamu juga sama besarnya Bang." 

Lantas kami tertawa kecil bersama.

Tak banyak obrolan di malam itu, kami lebih banyak diam menikmati suasana malam di kereta. Lama mendengarkan musik Kinasih tertidur menjadikan bahuku sebagai bantalan. Aku masih terjaga sambil membaca novel yang Kina bawa, This Is Why I Need You- Brian Khrisna. Kina selalu tepat memilih buku yang nyaman dibaca untuk menemani perjalanan.


Jam 04.30 WIB. Kircon

Kami sampai di Stasiun Kiara Condong. Kami menunggu jemputan sambil mengobrol di Pelataran Stasiun Kircon.

"Kina, minum dong."

"Kopi?"

"Mau nyiksa lambung?"

"Hahaha, nih air."

"Nuhun atuu."

"Kin, kina." Panggilku.

"Minum lagi?"

"Engga."

"Apa?"

"Kin, aku mau nyiptain kenangan di stasiun ini, gaktau bakal jadi kenangan baik atau malah paling buruk."

"Gimana-gimana? Aku gak paham Bri."

"Kalau aku minta break satu tahun gimana Kin? Satu tahun aja, sejak tanggal hari ini, 31 Desember 2019. Kita ketemu lagi di tanggal yang sama tahun berikutnya. Di Stasion Kircon juga Kin."

"Kenapa? Aku ada salah?"

"Gak Kin, gak ada sama sekali."

"Ya terus? Buat apa Bri?"

"4 bulan lagi skripsiku selesai, setelahnya kerja, aku mau menata diri dulu, membenahi yang sempat terlewat. Pun kamu Kin, skripsimu sudah setengah jalan, kita fokus dulu buat nyelesaiin tugas kita masing-masing, dan kembali lagi dengan diri yang lebih baik dan pantas Kin."

"Loh selama ini kan kita ngerjainnya sama-sama, kita nglaluin 3 tahun bareng-bareng. Gak bisa memantaskan diri sama-sama? Untuk break, harus ya?" 

"Iya Kin, Untuk setahun aja."

"Kamu kok gampang banget ya minta break, ada yang baru Bri?"

"Gak Kin, gak ada. Cuma ada kamu. Jadi gimana?"

"Aku jawab setelah acara Dea selesai."

Jawab Kina kesal, dia memalingkan wajah. Fokus pada ponselnya dengan perasaan sesak. 


Apa jawaban Kina kira-kira? Dalam 1 tahun apa saja yang akan Brian dan Kina lewati? Apa memang benar Brian Kane bertemu dengan orang baru?

Selamat bertemu di Arumika 2 :')


Komentar

Postingan Populer