DANDELION
Solo, 2020.
"Sore pak, lagi penuh ya di dalam?"
"Sore mba Nadin, iya nunggu dulu ya kayak biasa."
"Siap pak."
"Mba Nadin di smoke area kosong, gakpapa?"
"Iya gakpapa."
Restoran memang sedang penuh sampai beberapa pengunjung harus antre untuk makan di tempat.
Aku masuk memesan makanan tak ketinggalan bersama eskrimnya, membayar kemudian naik ke atas ke smoke area. Hanya ada beberapa pengunjung di sini tidak seramai di area yang lain.
Aku duduk didekat balkon terlihat jelas pemandangan Kota Solo ditemani matahari yang hampir terbenam. Pengunjung di sampingku yang satu keluarga telah menyelesaikan makannya kemudian turun untuk aktivitasnya lainnya.
Tak lama datang seorang lelaki berkacamata, tinggi dengan kaus hitamnya. Rasanya tak asing dengan orang ini. Ya, benar memang aku masih sangat mengenal lelaki ini.
Dia menyodorkan segelas eskrim dan sebotol air mineral.
"Dua gelas eskrim, satu cola, dan satu botol air mineral." Ucapnya seraya menarik kursi yang ada di depanku. Dia masih hafal dengan kebiasaanku saat makan di luar.
Ada perasaan sesak sekaligus senang melihat kedatangannya.
"Makan dulu, nanti aku jelasin." Ucapnya seolah dia tahu ada pertanyaan-pertanyann yang berenang di kepala.
Lelaki itu adalah Dimas, lelaki baik dengan sikap tegas dan lembutnya, perhatian perlakuannya. Semua itu sudah hampir dua tahun aku tidak merasakan lagi. Memangnya Dimas kemana?
Dimas lebih dulu menyelesaikan aktivitas makannya, dia menungguku makan, dia tidak sibuk memainkan gawainya, justru dia sibuk memerhatikanku makan.
"Kenapa ngliatin? Mau nambah?"
"Enggak, gih lanjutin makannya." Jawabnya sambil tersenyum.
Deg. Lama sekali tidak melihat senyum itu, senyum yang selalu menghangatkan.
"Sebentar ya, cuci tangan dulu."
"Iya."
Ku kembali ke meja tadi bersiap untuk mendengarkan penjelasan Dimas.
Aku duduk menatapnya lekat-lekat, masih sama seperti Dimas yang dulu hanya sedikit lebih bersih.
Tanpa ku sadari air mataku mengalir, entah apa yang membuatku menangis. Mungkin rindu yang terlalu besar, atau kecewa yang terlalu besar.
Dimas belum mulai bercerita, dia mengusap tanganku dengan lembut.
Setelah cukup tenang, Dimas mulai angkat bicara.
"Boleh aku menjelaskan semuanya?"
"Iya, silakan."
"Mungkin agak panjang tapi kuharap kamu tetep dengerin semuanya."
"Kamu inget surat yang dulu aku kasih ke kamu sebelum aku pergi? Ya, itu surat aku pamit Din. Nadin, aku pergi bukan tanpa alasan, bukan karena aku sudah gak mau sama kamu atau ada masalah sama kita. Waktu itu ayah ngasih tahu aku kalau Anggi teman kecilku, teman sejak 12 tahun yang lalu sedang butuh aku. Selama ini dia di Jakarta hidup dengan cukup tertekan, orang tuanya hampir setiap hari bertengkar, ayahnya juga selingkuh lagi Din, dengan wanita yang sama. Bagi Anggi rumahnya seperti bukan rumah, dan pada hari aku pamit itu ibu Anggi meninggal. Ibunya overdosis obat penenang, Anggi menyaksikan sendiri bagaimana ibunya meregang nyawa. Setelahnya dia depresi Din, perlu waktu cukup lama untuk dia sembuh. Setelah dia pulih, aku kembali ke sini untuk menemuimu."
"Harus selama hampir dua tahun, Mas? Dimas, kamu bisa ngasih tahu aku alasannya, aku juga bakal menerima itu. Dua tahun kamu gak pernah ngasih kabar apa-apa, di sini aku juga mungkin depresi Dimas, depresi karena kepergianmu tanpa alasan."
"Iya Nadin, aku tahu aku memang brengsek, aku takut kamu gak bakal ngizinin aku untuk bersama Anggi untuk waktu yang lama. Aku memutuskan untuk menceritakan semuanya setelah semua urusan, semua tugasku selesai Din."
"Aku ga sejahat itu Dimas, aku punya hati, mungkin kalau kamu jujur sejak awal aku bakal menawarkan diri untuk ikut dengan kamu, membersamai kamu bukan ditinggal seperti ini."
Tangisku pecah semuanya berkecamuk. Dimas bangkit lantas duduk di sampingku memelukku dengan erat, hangat sekali. Aku tidak punya tenaga untuk menolaknya, Dimas mengusap rambutku agar lekas tenang.
"Jangan pergi lagi Dimas." Ucapku di tengah peluknya.
"Iya, aku di sini." Dimas menepuk bahuku.
Setelahnya Dimas mengantarku pulang dengan motornya.
"Nih pake jaketnya, dingin."
Aku hanya menuruti tidak menjawab apapun. Aku merebahkan kepalaku di bahu Dimas, membayar tuntas rindu yang begitu besar, membiarkan bajunya basah terkena air mata. Dimas menarik tanganku seakan menyuruhku memeluknya begitu dalam, rasa ingin tidak kehilangan ini besar sekali.
Surat untuk Nadin dari Dimas.
Solo 2018.
Untuk Putri Ayu Nadin Prameswari
Nadin, dengan surat ini aku pamit untuk pergi, entah sebentar atau untuk waktu yang cukup lama.
Jaga dirimu baik-baik ya Din.
Tenang saja kamu selalu utuh untukku yang rapuh. Kamu selalu menjadi tenang untukku yang riuh.
Semoga begitu sampai akhir.
Lelakimu
Dimas Putra Anggara
Selamat bertemu di Dandelion 2.

Komentar
Posting Komentar