DANDELION 2
Ting
A message from Arini Ratnanda
Din, Dimas sakit tadi sempet pingsan. Kalau mau jenguk dia di rumahnya yang dulu di Karanganyar. Gih samperin.
Terima kasih infonya Rin.
Sejak pertemuan di restoran itu aku dan Dimas belum berbincang lagi.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam nak Nadin, lama sekali ibu gak ketemu kamu ibu kangen nak Nadin, ayo masuk, Dimas ada di kamarnya tadi asam lambungnya kambuh lagi."
Ibu Dimas menyambutku dengan sangat hangat.
"Nadin juga kangen bu, maaf ya jarang berkunjung."
"Iya, ibu tahu situasinya."
"Boleh saya ke kamarnya Dimas, bu?"
"Boleh silakan, ibu buatkan minum dulu ya."
"Iya bu, terima kasih."
Aku masuk ke kamarnya, ku lihat Dimas sedang tertidur pulas dengan obat yang ada di atas nakas.
Aku memandang seisi kamar, selalu rapi, bersih. Di sebelah lampu tidur ada fotoku, di dinding kamar ada lukisan kanvas buatanku yang dulu ku beri. Ada sisir berwarna hitam yang dulu ku kasih ketika awal-awal kuliah. Dimas memang tak pernah benar-benar melupakanku dia hanya pergi menjalankan tugasnya, ada rasa tanggung jawab yang harus dia selesaikan. Ku tersenyum senang.
Aku duduk di samping tempat tidur Dimas, tak terasa aku ikut terlelap.
Aku merasakan ada tangan yang mengusap rambutku lembut. Yang membuatku terbangun.
"Gimana?" Tanyaku kepada lelaki di hadapanku ini.
"Cantik."
"Lambung kamu, bapak."
"Baik."
"Udah sore nih, makan ya? Aku suapin."
"Di taman belakang?"
"Yaa, aku siapin dulu makanannya."
Saat ini aku sedang di taman belakang bersama Dimas.
"Selesai, anak hebat." Ucapku sambil mengacak rambut Dimas.
Dimas tersenyum menatapku lekat, tatapan redup yang tenang sekali tetapi berbeda dengan tatapan yang biasanya. Ya Tuhan ada apa lagi.
Dimas memberiku sebuah kotak kecil yang berhasil membuyarkan pikiranku.
"Boleh ku buka?"
"Boleh, masak mau dijual."
Terlihat kalung sangat cantik di dalamnya, liontinnya berbentuk bunga dandelion.
"Wah cantiknya." Ucapku gembira.
"Sini aku pasangin."
Aku mengangguk tanda setuju.
Aku pamit pulang karena sudah cukup malam, ku bergegas dengan menaiki taksi daring.
"Pak supir, jagain perempuan ini ya, saya masih ingin lihat dia."
"Saya juga masih ingin sama dia terus pak."
Pak Supir tersenyum.
Setiap hari selama seminggu aku selalu ke rumah Dimas untuk merawatnya.
Ting
A message from Dimas Putra
Selamat pagi Nadin
Nanti jam delapan malam kita ketemu di Kafe Dandelion ya.
See u tonight. Semoga harimu baik.
Selamat pagi Dimas
Hari baik juga untukmu.
Dandelion Kafe
Kafe Dandelion, kafe pertama kami bertemu, tempat awal sebuah kisah terjadi.
Dimas datang dengan kemeja dan sepatu casualnya, terlihat manis sekali, memang tak terkalahkan manisnya lelakiku ini.
Aku datang dengan dress berwarna nude dan sedikit polesan wajah. Kami makan malam ditemani lagu Blue Jeans, miris sekali memang kenapa harus lagu itu.
"Nadin."
"Iya Mas, kenapa?"
Dia memberiku kotak yang lebih besar dari sebelumnya.
"Bukanya nanti kalau udah di rumah ya."
"Memang kenapa kalau di sini?"
"Ya pokoknya bukanya nanti."
"Okedeh, nanti dibuka di rumah."
"Nadin."
"Yaa?"
"Boleh aku peluk kamu?"
"Bol.."
Belum selesai ku menjawab Dimas sudah menarikku ke pelukannya. Pelukan paling hangat.
"Din."
"Hmmm."
"Aku sayang banget sama kamu. Kalau besok aku udah gak bisa jaga kamu, kamu jaga diri baik-baik ya."
"Rasa sayangku ke kamu lebih besar Dimas, jaga diri kita sama-sama ya."
Sampai di rumah aku langsung bersih-bersih kemudian merebahkan diri di kasur. Tidak sempat membuka kotak pemberian Dimas.
Missed voice call at 23.46 (2)
Missed voice call at 23.50 (4)
A message from Dimas Putra
Tidur yang nyenyak Nadin.
Ku bangun pagi-pagi, setelah mandi ku mengecek gawai ada 6 panggilan tak terjawab dari Dimas.
Disamping gawai ada kotak dari Dimas semalam. Ku buka kotak itu, isinya ada jepit rambut yang kita beli waktu liburan di Semarang, ada foto kita berdua dengan frame sangat manis, dan beberapa barang Dimas. Ku baca surat yang ditulis Dimas.
Setelah membaca surat itu aku langsung bergegas ke rumah sakit dengan perasaan sesak sekali. Tuhan ku mohon yang terbaik untuk saat ini.
Putri Ayu Nadin Prameswari
Sekali lagi ku beri surat untukmu.
Nadin, besok jam delapan pagi aku operasi untuk asam lambungku.
Setelah dirawat olehmu aku memang lebih baik, aku merasa baik-baik saja terima kasih atas semuanya ya Din.
Aku harus dioperasi agar sakitku bisa pulih total, agar kamu tidak selalu khawatir lagi Din.
Aku tidak memberitahumu langsung tadi malam aku tidak mau merusak momen itu.
Nadin jangan khawatir, Dimas akan baik-baik saja. Doakan operasinya berhasil, kalaupun tidak, Dimas yakin dalam doamu selalu tersebut namaku Din.
Nadin semoga kita bisa bertahan sampai akhir yaa.
Rasa sayangku ke kamu selalu sama, bertambah tidak berkurang, kamu selalu menjadi tempat pulang paling sempurna untuk riuh, rapuh, sepi, semuanya Din.
Terima kasih ya Din, sampai berjumpa lagi dicerita rumah yang sama atau yang berbeda.
Lelakimu
Dimas Putra Anggara
Sesampainya aku di rumah sakit bertepatan dengan dokter yang selesai mengoperasi Dimas.
Aku bersiap mendengar hasilnya bersama dengan kedua orang tua Dimas.
"Saya dan semuanya sudah bekerja keras, yang pertama saya ucapkan turut berduka cita. Penyakit asam lambung Dimas sudah cukup parah, dan saat operasi terjadi pendarahan lambung. Yang menyebabkan Dimas tidak bisa bertahan."
Dadaku seperti dihantam bola api besar, sesak sekali.
Dimas
Kamu sudah janji gak akan pergi lagi. Kamu pergi dengan surat lagi.
Aku gak siap untuk kehilangan dua kali Dimas. Kamu janji untuk bertahan sama-sama sampai akhir.
Solo, 24 Juli 2020.
Telah pergi untuk selamanya Dimas Putra Anggara, lelaki kepunyaan Nadin. Baru saja kita ketemu Mas, kamu pamit lagi. Kalau aku nunggu di restoran itu lagi kamu bakal dateng gak Mas? Ku rasa tidak. Yaudah pergi dengan baik-baik ya.
Terima kasih kamu pergi dengan alasan yang jelas, terima kasih untuk kenangan-kenangan baik yang kamu ciptakan sebelum kepergianmu. Itu akan menjadi hal yang selalu diingat.
Semuanya, tentang kamu sudah punya tempat sendiri di hatiku Dimas.
Semoga kamu tenang di sana, aku yakin kamu selalu tersenyum melihat perempuanmu ini tumbuh semakin dewasa.
Memang happy ending tidak selalu dengan bersama.
Wait for me Dimas.
Putri Ayu Nadin Prameswari

Komentar
Posting Komentar